Pondok Aren — Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam obrolan malam Rabu yang berlangsung di Mie Ayam OR. Pertemuan santai ini dihadiri oleh Osang Ruslani, Soewardi, Pak Junaedi, Bapak Memet dan saudara Arasi.
Dalam suasana sederhana ditemani hidangan mie ayam dan secangkir kopi, perbincangan mengalir ke ranah yang lebih dalam, yakni tentang konsep Jati Niskala atau “sejatine tanpa wujud”. Topik ini menjadi pusat diskusi yang menggugah pemikiran, khususnya dalam memahami hakikat kehidupan yang tidak selalu tampak secara kasat mata.
Bapak Memet sebagai sosok yang dikenal memiliki ketertarikan pada dunia filsafat menjelaskan bahwa Jati Niskala merupakan esensi terdalam dari keberadaan, yang melampaui bentuk fisik dan materi. Menurutnya, manusia seringkali terjebak pada hal-hal yang bersifat lahiriah, padahal hakikat sejati justru berada pada dimensi yang tak terlihat.
Sementara itu, Osang Ruslani menambahkan bahwa pemahaman tentang nilai-nilai niskala dapat menjadi landasan dalam berorganisasi, terutama dalam menjaga keikhlasan dan niat dalam berkhidmat di lingkungan Nahdlatul Ulama. Hal senada juga disampaikan Soewardi, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek lahiriah (syariat) dan batiniah (hakikat).
Diskusi berlangsung hangat hingga larut malam, diselingi canda ringan namun tetap sarat makna. Obrolan ini menjadi bukti bahwa ruang-ruang sederhana seperti warung makan dapat menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran mendalam yang memperkaya perspektif kehidupan.
Melalui pertemuan ini, para peserta berharap nilai-nilai kebijaksanaan yang dibahas tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bermasyarakat maupun dalam menjalankan amanah organisasi.







